Jumat, 02 Desember 2011
Selasa, 08 November 2011 00:07
JAYAPURA—Setelah pihak DAP dan PDP yang diwakili Herman Awom menolak usulan komunikasi konstruktif untuk menyelesaikan masalah Papua sebagaimana diusulkan Sesmenkopolhukam Letjen (Purn) Hotma Panjaitan, kini giliran Ketua Komisi A DPR Papua Ruben Magay juga menyatakan menolak.
Saat dihubungi diruang kerjanya, Komisi A DPR Papua, Senin (7/11), Ruben Magai mengatakan, Komunikasi konstruktif adalah suatu pendampingan terhadap pengawasan program yang dilakukan pemerintah pusat. Apabila pemerintah pusat menawarkan komunikasi konstruktif mestinya disertai konsep yang jelas. “Pemerintah pusat jangan bicara doang. Tapi harus menyampaikan konsep komunikasi konstruktif kepada rakyat Papua,”katanya.
Politisi Partai Demokrat Papua ini menjelaskan, Dialog Jakarta—Papua telah mempunyai konsep yang jelas. Bahkan telah mendapat kesepakatan dari seluruh elemen masyarakat Papua, bahkan pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah pusat bahwa untuk menyelesaikan masalah Papua dibutuhkan Dialog Jakarta—Papua bukan komunikasi konstruktif atau Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), Tim Pemantau Evaluasi Otsus Aceh dan Papua dan lain lain.
“Kami menolak segala tawaran pemerintah pusat apabila tak sepenuhnya melibatkan Rakyat Papua,” tukasnya. “Beda dengan Otsus Aceh yang penyusunannya murni pemikiran rakyat Aceh.”
Dia menegaskan, apabila Otsus diberikan sebagai solusi tuntutan agar Papua merdeka dan berdaulat terlepas dari NKRI, seyogyanyalah, implementasi Otsus melibatkan rakyat Papua.
Kata dia, Dialog Jakarta—Papua nantinya membahas 4 agenda penting masing masing Pelurusan Sejarah 1 Desember 1961, Kontrak Karya PT Freeport Indonesia 7 April 1967, Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 serta UU Otsus 2001.
Pembahasan Pelurusan Sejarah 1 Desember 1961, Pemerintah Hindia Belanda telah menyepakati syarat syarat Papua Barat berdiri sebagai suatu negara berdaulat.
“1 Desember selalu diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Barat,” tuturnya.
Selanjutnya, Kontrak Karya pemerintah Indonesia dan PT Freeport Indonesia dilaksanakan pada 7 April 1967 sebelum Papua Barat dianeksasi kedalam NKRI, apalagi kesepekatan tersebut tak melibatkan rakyat Papua sebagai pemilik hal ulayat lokasi tambang emas PTFI di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 serta UU Otsus 2001 yang dinilai gagal sejahterakan rakyat Papua dan karena rakyat Papua telah mengembalikannya kepada pemerintah pusat.
Dia menandaskan, masalah-masalah lain yang dibutuhkan rakyat Papua seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat serta infrastruktur adalah kewajiban pemerintah pusat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.(mdc/don/l03)
→ Leave a comment
Selasa, 08 November 2011 00:07
JAYAPURA—Setelah pihak DAP dan PDP yang diwakili Herman Awom menolak usulan komunikasi konstruktif untuk menyelesaikan masalah Papua sebagaimana diusulkan Sesmenkopolhukam Letjen (Purn) Hotma Panjaitan, kini giliran Ketua Komisi A DPR Papua Ruben Magay juga menyatakan menolak.
Saat dihubungi diruang kerjanya, Komisi A DPR Papua, Senin (7/11), Ruben Magai mengatakan, Komunikasi konstruktif adalah suatu pendampingan terhadap pengawasan program yang dilakukan pemerintah pusat. Apabila pemerintah pusat menawarkan komunikasi konstruktif mestinya disertai konsep yang jelas. “Pemerintah pusat jangan bicara doang. Tapi harus menyampaikan konsep komunikasi konstruktif kepada rakyat Papua,”katanya.
Politisi Partai Demokrat Papua ini menjelaskan, Dialog Jakarta—Papua telah mempunyai konsep yang jelas. Bahkan telah mendapat kesepakatan dari seluruh elemen masyarakat Papua, bahkan pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah pusat bahwa untuk menyelesaikan masalah Papua dibutuhkan Dialog Jakarta—Papua bukan komunikasi konstruktif atau Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), Tim Pemantau Evaluasi Otsus Aceh dan Papua dan lain lain.
“Kami menolak segala tawaran pemerintah pusat apabila tak sepenuhnya melibatkan Rakyat Papua,” tukasnya. “Beda dengan Otsus Aceh yang penyusunannya murni pemikiran rakyat Aceh.”
Dia menegaskan, apabila Otsus diberikan sebagai solusi tuntutan agar Papua merdeka dan berdaulat terlepas dari NKRI, seyogyanyalah, implementasi Otsus melibatkan rakyat Papua.
Kata dia, Dialog Jakarta—Papua nantinya membahas 4 agenda penting masing masing Pelurusan Sejarah 1 Desember 1961, Kontrak Karya PT Freeport Indonesia 7 April 1967, Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 serta UU Otsus 2001.
Pembahasan Pelurusan Sejarah 1 Desember 1961, Pemerintah Hindia Belanda telah menyepakati syarat syarat Papua Barat berdiri sebagai suatu negara berdaulat.
“1 Desember selalu diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Barat,” tuturnya.
Selanjutnya, Kontrak Karya pemerintah Indonesia dan PT Freeport Indonesia dilaksanakan pada 7 April 1967 sebelum Papua Barat dianeksasi kedalam NKRI, apalagi kesepekatan tersebut tak melibatkan rakyat Papua sebagai pemilik hal ulayat lokasi tambang emas PTFI di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 serta UU Otsus 2001 yang dinilai gagal sejahterakan rakyat Papua dan karena rakyat Papua telah mengembalikannya kepada pemerintah pusat.
Dia menandaskan, masalah-masalah lain yang dibutuhkan rakyat Papua seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat serta infrastruktur adalah kewajiban pemerintah pusat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.(mdc/don/l03)
04.41
No comments
Cara Memasukkan Video Youtube Ke Posting Blog
Saya yakin teman-teman sudah tau, siapa sih yang ga kenal sama youtube.
Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas bagaimana cara memasukkan Video YouTube ke postinganblog blogger, bukan Cara Download Video YouTube lho..
Bagi teman-teman yang ingin membuat blog yang berisi dengan Video YouTube pada khususnya, sudah tentu wajib mengetahui cara memasukkan vide youtube ke postingan.
Sebenarnya Memasukkan Video Youtube ke posting blog bukanlah hal yang susah, tapi kalau ga tau caranya tetap saja susah. Selain video youtube kita juga bisa memasukkan video yang ada di komputer/laptop kita ke postingan blog.
Ok Langsung saja.
Cara Memasukkan Video Ke Postingan Blog Blogger
Langkah pertamaSilahkan cari video youtube yang ingin anda masukkan ke posting di situsnya yaitu www.youtube.com
Langkah keDua
Silahkan klik tulisan Embed yang letaknya di sebelah kanan Video tersebut dan silahkan tunggu sampai kode html nya terlihat . Lihat Gambar Berikut.
Langkah keTiga
Kopi kode html yang sudah di sediakan oleh youtube tadi kemudian paste ke postingan blog, ingat pastenya di bagian Edit HTML, jika anda belum tau di mana letak Edit HTML tersebut silahkan baca artikel Cara Memasukkan Kode Html Di Posting Blogger.
Langkah keEmpat
Letakkan kode html vide youtube tersebut di tempat yang anda inginkan, setelah itu silahkan publikasikan Postingan tersebut.
Jika anda mengklik Menu Compose (yang bersebelahan dengan Edit HTML itulho), maka video youtube tersebut akan terlihat seperti ini:
Oh ia.. Hampir saja lupa.
Tadi saya bilang bahwa kita bisa juga mamasukkan video dari komputer/laptop ke postingan blog blog.
Untuk panduan bagaimana cara memasukkan atau upload video yang ada di koputer/laptop kita ke postingan blog blogger silahkan lihat Video YouTube di bwah ini.
Di dalam video tersebut juga ada sedikit tutorial cara memasukkan video you tube ke postingan blog blogger.
Jangan Lupa Klik Tombol Like Di Bawah ini ya ... :-)
Jangan Lupa Untuk Memberi Komentar Ya
Perdagangan elektronik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perdagangan elektronik atau e-dagang (bahasa Inggris: Electronic commerce, juga e-commerce) adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-dagang dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll.
E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik(e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini.
E-dagang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.
Istilah "perdagangan elektronik" telah berubah sejalan dengan waktu. Awalnya, perdagangan elektronik berarti pemanfaatan transaksi komersial, seperti penggunaan EDI untuk mengirim dokumen komersial seperti pesanan pembelian atau invoice secara elektronik.[sunting]Sejarah perkembangan
Kemudian dia berkembang menjadi suatu aktivitas yang mempunya istilah yang lebih tepat "perdagangan web" — pembelian barang dan jasa melalui World Wide Web melalui server aman (HTTPS), protokol server khusus yang menggunakan enkripsi untuk merahasiakan data penting pelanggan.
Pada awalnya ketika web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru sekitar empat tahun kemudian protokol aman seperti HTTPS memasuki tahap matang dan banyak digunakan. Antara 1998 dan 2000 banyak bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini.
[sunting]Faktor kunci sukses dalam e-commerce
Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:
- Menyediakan harga kompetitif
- Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
- Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
- Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
- Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
- Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain.
- Mempermudah kegiatan perdagangan
[sunting]Masalah e-commerce
- Penipuan dengan cara pencurian identitas dan membohongi pelanggan.
- Hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce ini.
[sunting]Aplikasi bisnis
Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:
- E-mail dan Messaging
- Content Management Systems
- Dokumen, spreadsheet, database
- Akunting dan sistem keuangan
- Informasi pengiriman dan pemesanan
- Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
- Sistem pembayaran domestik dan internasional
- Newsgroup
- On-line Shopping
- Conferencing
- Online Banking/internet Banking
- Product Digital/Non Digital
[sunting]Perusahaan terkenal
Perusahaan yang terkenal dalam bidang ini antara lain: eBay, Yahoo, Amazon.com, Google, dan PayPal. Di Indonesia: blibli.com,rakuten.co.id, plasa.com.
[sunting]Kecocokan barang
Ada beberapa barang yang cocok dijual secara elektronik seperti barang elektronik kecil, musik, piranti lunak, fotografi, dll. Barang yang tidak cocok seperti barang yang memiliki rasio harga dan berat yang rendah, barang-barang yang perlu dibaui, dipegang, dicicip, dan lain-lain.
[sunting]Referensi
- Chaudhury, Abijit & Jean-Pierre Kuilboer (2002), e-Business and e-Commerce Infrastructure, McGraw-Hill, ISBN 0-07-247875-6
- Kessler, M. (2003). More shoppers proceed to checkout online. Retrieved January 13, 2004
- Seybold, Pat (2001), Customers.com, Crown Business Books (Random House), ISBN 0-609-60772-3
Minggu, 20 November 2011
navy seal
20.04
No comments
<iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/ZnhDpsxTVNg" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
Kamis, 03 November 2011
Kejahatan Perang Jepang di Perang Dunia kedua
17.13
No comments
Kisah Seorang Romusha Jawa
Setengah abad ia terdampar di perbatasan Thailand dan Burma,
sebagai bekas Romusha. Pemuda Jawa itu tak dendam pada Jepang.
Masih perlukah permintaan maaf?
Tahun 1943 pemuda Karja Wiredja meninggalkan desanya di
Matukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menjadi romusha di
Thailand. Di benaknya mungkin tidak terpikir bahwa dia baru akan
kembali ke desanya 52 tahun kemudian. "Waktu itu lurah bilang
kita boleh ikut Nippon," kata Karja akhir bulan Juli yang lalu.
Maka berangkatlah pemuda lugu tersebut untuk jadi mandor
pembangunan rel kereta api sepanjang 415 kilometer antara Thai-
land dan Burma. Bayarannya, dua sen sehari. Selama sebulan kerja
Karja mendapat gaji enam rupiah.
Ketika Perang Dunia II berakhir dengan pemboman terhadap
Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, proyek yang memakan banyak korban
itu ditutup. Sekitar 300,000 tenaga kerja paksa yang masih hidup
dipulangkan ke Indonesia, Malaysia, Burma maupun negara-negara
barat seperti Australia, Inggris dan Belanda.
Sambil menunggu kapal yang akan membawanya kembali ke
Indonesia, Karja memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Keluar
dari barak para pekerja, "Banyak perempuan baik-baik, muda-muda
dan cakap-cakap," kata Karja (75) sambil tergelak dengan giginya
yang ompong.
Pemuda Karja yang mantan romusha, tampaknya pecinta yang
ulung. Buktinya, dia mampu kawin-cerai selama di Thailand selama
lima kali. Dan ini pula alasannya untuk kemudian terlambat kemba-
li ke Bangkok untuk pulang ke Indonesia.
"Dia ketinggalan kapal Red Cross International yang
berangkat ke Indonesia," kata Nagase Takashi dari River Kwai
Peace Temple and Foundation (Tokyo) yang membantu Karja pulang ke
Indonesia.
Menurut laporan koran West Australian (Perth) yang meli-
put kedatangan Karja, kehidupan panjang sebagai kuli perkebunan
dan tinggal di hutan, harus dijalani Karja bersama dengan dua
orang India, dua orang Malaysia, satu orang Singapura serta satu
orang Gurkha, yang sama-sama "pensiunan" romusha.
Sebagian besar dari yang ketinggalan kapal itu terisolasi
dari perkembangan dunia. Semua sudah meninggal, kecuali Karja,
yang kemudian atas upaya Takashi, bisa kembali ke kampungnya di
kaki Gunung Sindoro. Suatu reuni keluarga yang mengharukan.
Menurut Takashi (77), bekas opsir Jepang yang pernah
bertugas sebagai mata-mata di Jakarta dan penterjemah di Thai-
land, proyek rel kereta itu melibatkan 45,000 romusha Indonesia,
85,000 dari Malaysa (orang Cina, India maupun Melayu), 180,000
dari Burma serta 12,000 serdadu Jepang yang bertugas mengawasi
dan mengatur pekerjaan.
Selain romusha, proyek tersebut juga memperkerjakan
68,000 tawanan perang dari berbagai kebangsaan, terutama Inggris,
Belanda dan Australia. Dan dari semuanya, 100,000 di antaranya
meninggal dunia akibat malaria maupun kebrutalan serdadu Jepang.
Di antara 400,000 pekerja yang membangun jalan kereta api
itu juga terdapat Tom Uren, kini politisi terkemuka di Sydney,
Australia, yang mengatakan bahwa, pada masa awal menjadi tawanan
perang Jepang, "Saya ingin memusnahkan semua orang Jepang dari
muka bumi ini. Mereka sangat kejam dan suka menyiksa."
"Saya tidak pernah mencoba mendefinisikan kebrutalan
mereka karena kesadisan mereka sungguh luar biasa," kata Uren
kepada kantor berita Kyodo.
Kisah yang sama juga terjadi pada Harry Rynenberg, yang
menjadi tawanan perang Jepang di Indonesia, dan kini menjadi
ketua Australian Civilian Japanese War Repratriation Action
Group.
Rynenberg mewakili sekitar 900 orang anggotanya, laki-
laki maupun perempuan, yang pernah menjadi tenaga kerja paksa
maupun ianfu (wanita penghibur) serdadu Jepang. Bulan Agustus
ini, bertepatan dengan 50 tahun berakhirnya Perang Dunia II,
mereka menuntut ganti rugi serta permintaan maaf dari pemerintah
Jepang masing-masing US$16,000 (Rp 35 juta).
Selain itu, Rynenberg menekankan perlunya tuntutan terse-
but karena pemerintah Jepang tidak pernah memberikan informasi
yang memadai kepada rakyat Jepang tentang apa yang pernah mereka
lakukan pada tahun 1940-an.
Ketika dia sedang berada di Jepang, Rynenberg pernah
bertanya pada sekelompok anak muda tentang isu romusha maupun
ianfu, "Mereka ternyata tidak tahu apa-apa."
Sikap pemerintah dan Kaisar Jepang, baik Hirohito maupun
Akihito, yang berusaha menutup-nutupi pelanggaran hak-hak dasar
kaum sipil dalam Perang Dunia II inilah yang masih mengganjal dan
menguatirkan banyak negara di kawasan ini akan kemungkinan teru-
langinya ekspansionisme Jepang.
"Kami tidak pernah tahu tentang betapa kejamnya pasukan
kami pada jaman Perang Dunia II. Saya baru tahu itu semua ketika
saya ikut suami saya ke Jakarta," kata seorang ibu rumah tangga
Jepang yang bersuamikan orang Indonesia.
Menurutnya, pelajaran sejarah di Jepang tidak pernah
menyinggung akibat-akibat dari Perang Dunia II, tentang ratusan
ribu romusha di Thailand-Burma, tentang ribuan perempuan Cina,
Korea, Indonesia, Inggris, Australia maupun Belanda yang dijadi-
kan wanita penghibur yang sehari-harinya harus melayani --tepatn-
ya diperkosa-- oleh lebih dari sepuluh serdadu Jepang.
Selain itu, pemerintah Jepang menutup mata terhadap
orang-orang semacam Karja Wiredja yang selama berpuluh-puluh
tahun tertinggal di hutan-hutan karena terlalu miskin, dan terka-
dang takut, untuk kembali ke daerah asal mereka.
Ketika mendarat di lapangan udara Adisucipto, Yogyakarta,
Karja yang mengenakan sepatu karet alam, jaket lusuh, kaos warna
hijau tua serta celana tua yang riutsletingnya sudah rusak,
ternyata sudah tidak bisa mengenali Yogyakarta.
"Bangunan-bangunan tak sebanyak ini," katanya dalam logat
Melayu pasar tahun 1940-an. Menurut Karja, dia sebenarnya rindu
untuk pulang kampung melihat saudara-saudara dan menengok kuburan
kedua orang tuanya. Tetapi Karja tidak punya uang, buat makan
saja sulit.
Pemerintah Jepang juga tidak pernah menggubris tekanan-
tekanan dari berbagai organisasi non-pemerintah untuk memperhati-
kan dan minta maaf pada orang semacam Karja, tetapi mereka bersi-
keras bahwa pampasan perang sudah dibayar (Presiden Sukarno
membangun Hotel Indonesia, Gedung Sarinah dan beberapa proyek
lain dengan uang tersebut).
Mengapa rakyat Jepang tidak menuntut pemerintahnya?
"Karena mereka tidak tahu," ujar Takashi yang menyesal karena
pernah terlibat dalam penindasan rakyat Asia Tenggara, Tiongkok
dan Korea.
"Tetapi waktu itu kami berpikir bahwa kami memang berke-
hendak membebaskan Asia dari kolonialisme Barat. Saya baru sadar
ketika bertugas di Thailand dan melihat kekejaman serdadu Jepang
di proyek kereta api," katanya sedih.
Ketika ditanya mengapa pemerintah Jepang tidak minta
maaf, dengan cepat dan emosional Takashi menjawab, "Tanyakan pada
kaisar. Orang itu yang menentukan. Kaisar tidak pernah mau minta
maaf."
Tetapi buat Tom Uren (74), persoalannya tidak sesederhana
itu. Menurut Uren, tahun terakhir dari 3.5 tahun masa tahanannya,
Uren ditempatkan untuk bekerja paksa di daerah Saganoseki,
Kyushu, Jepang.
Disana Uren bekerja bersama orang Korea maupun orang
Jepang, "Saat itu kami mendapat pengertian yang lebih mendalam.
Kami sama-sama ingin perang berakhir dan para pekerja Jepang juga
sangat simpati terhadap mereka yang sakit dan lemah."
Uren mengatakan bahwa saat ini dia sudah tidak membenci
orang Jepang lagi, tetapi tidak dengan militerisme dan fasisme,
"Saya tidak ingin berdebat lagi soal perlunya permintaan maaf
atau tidak --itu hal yang permukaan," katanya, "Yang perlu,
pemerintah Jepang harus mengakui perbuatan-perbuatan kriminal
yang dilakukan oleh pihak militer mereka antara tahun 1930-an dan
1940-an."
"Dan sistem pendidikan mereka juga harus menginformasikan
kepada generasi muda perbuatan barbar dan tidak berperikemanu-
siaan yang pernah dilakukan generasi terdahulu. Masalah ini tidak
seharusnya didiamkan dan disembunyikan di bawah karpet," kata
Uren.
Karja sendiri, dengan lugu, mengatakan bahwa semuanya
sudah berakhir tanpa kebencian pada Jepang. "Nippon itu baik-
baik, saya dikasih uang seperti sekarang ini," katanya menunjuk
pada Takashi. (Suara INDEPENDEN)
Source : http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/...09/02/0000.html
Setengah abad ia terdampar di perbatasan Thailand dan Burma,
sebagai bekas Romusha. Pemuda Jawa itu tak dendam pada Jepang.
Masih perlukah permintaan maaf?
Tahun 1943 pemuda Karja Wiredja meninggalkan desanya di
Matukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menjadi romusha di
Thailand. Di benaknya mungkin tidak terpikir bahwa dia baru akan
kembali ke desanya 52 tahun kemudian. "Waktu itu lurah bilang
kita boleh ikut Nippon," kata Karja akhir bulan Juli yang lalu.
Maka berangkatlah pemuda lugu tersebut untuk jadi mandor
pembangunan rel kereta api sepanjang 415 kilometer antara Thai-
land dan Burma. Bayarannya, dua sen sehari. Selama sebulan kerja
Karja mendapat gaji enam rupiah.
Ketika Perang Dunia II berakhir dengan pemboman terhadap
Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, proyek yang memakan banyak korban
itu ditutup. Sekitar 300,000 tenaga kerja paksa yang masih hidup
dipulangkan ke Indonesia, Malaysia, Burma maupun negara-negara
barat seperti Australia, Inggris dan Belanda.
Sambil menunggu kapal yang akan membawanya kembali ke
Indonesia, Karja memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Keluar
dari barak para pekerja, "Banyak perempuan baik-baik, muda-muda
dan cakap-cakap," kata Karja (75) sambil tergelak dengan giginya
yang ompong.
Pemuda Karja yang mantan romusha, tampaknya pecinta yang
ulung. Buktinya, dia mampu kawin-cerai selama di Thailand selama
lima kali. Dan ini pula alasannya untuk kemudian terlambat kemba-
li ke Bangkok untuk pulang ke Indonesia.
"Dia ketinggalan kapal Red Cross International yang
berangkat ke Indonesia," kata Nagase Takashi dari River Kwai
Peace Temple and Foundation (Tokyo) yang membantu Karja pulang ke
Indonesia.
Menurut laporan koran West Australian (Perth) yang meli-
put kedatangan Karja, kehidupan panjang sebagai kuli perkebunan
dan tinggal di hutan, harus dijalani Karja bersama dengan dua
orang India, dua orang Malaysia, satu orang Singapura serta satu
orang Gurkha, yang sama-sama "pensiunan" romusha.
Sebagian besar dari yang ketinggalan kapal itu terisolasi
dari perkembangan dunia. Semua sudah meninggal, kecuali Karja,
yang kemudian atas upaya Takashi, bisa kembali ke kampungnya di
kaki Gunung Sindoro. Suatu reuni keluarga yang mengharukan.
Menurut Takashi (77), bekas opsir Jepang yang pernah
bertugas sebagai mata-mata di Jakarta dan penterjemah di Thai-
land, proyek rel kereta itu melibatkan 45,000 romusha Indonesia,
85,000 dari Malaysa (orang Cina, India maupun Melayu), 180,000
dari Burma serta 12,000 serdadu Jepang yang bertugas mengawasi
dan mengatur pekerjaan.
Selain romusha, proyek tersebut juga memperkerjakan
68,000 tawanan perang dari berbagai kebangsaan, terutama Inggris,
Belanda dan Australia. Dan dari semuanya, 100,000 di antaranya
meninggal dunia akibat malaria maupun kebrutalan serdadu Jepang.
Di antara 400,000 pekerja yang membangun jalan kereta api
itu juga terdapat Tom Uren, kini politisi terkemuka di Sydney,
Australia, yang mengatakan bahwa, pada masa awal menjadi tawanan
perang Jepang, "Saya ingin memusnahkan semua orang Jepang dari
muka bumi ini. Mereka sangat kejam dan suka menyiksa."
"Saya tidak pernah mencoba mendefinisikan kebrutalan
mereka karena kesadisan mereka sungguh luar biasa," kata Uren
kepada kantor berita Kyodo.
Kisah yang sama juga terjadi pada Harry Rynenberg, yang
menjadi tawanan perang Jepang di Indonesia, dan kini menjadi
ketua Australian Civilian Japanese War Repratriation Action
Group.
Rynenberg mewakili sekitar 900 orang anggotanya, laki-
laki maupun perempuan, yang pernah menjadi tenaga kerja paksa
maupun ianfu (wanita penghibur) serdadu Jepang. Bulan Agustus
ini, bertepatan dengan 50 tahun berakhirnya Perang Dunia II,
mereka menuntut ganti rugi serta permintaan maaf dari pemerintah
Jepang masing-masing US$16,000 (Rp 35 juta).
Selain itu, Rynenberg menekankan perlunya tuntutan terse-
but karena pemerintah Jepang tidak pernah memberikan informasi
yang memadai kepada rakyat Jepang tentang apa yang pernah mereka
lakukan pada tahun 1940-an.
Ketika dia sedang berada di Jepang, Rynenberg pernah
bertanya pada sekelompok anak muda tentang isu romusha maupun
ianfu, "Mereka ternyata tidak tahu apa-apa."
Sikap pemerintah dan Kaisar Jepang, baik Hirohito maupun
Akihito, yang berusaha menutup-nutupi pelanggaran hak-hak dasar
kaum sipil dalam Perang Dunia II inilah yang masih mengganjal dan
menguatirkan banyak negara di kawasan ini akan kemungkinan teru-
langinya ekspansionisme Jepang.
"Kami tidak pernah tahu tentang betapa kejamnya pasukan
kami pada jaman Perang Dunia II. Saya baru tahu itu semua ketika
saya ikut suami saya ke Jakarta," kata seorang ibu rumah tangga
Jepang yang bersuamikan orang Indonesia.
Menurutnya, pelajaran sejarah di Jepang tidak pernah
menyinggung akibat-akibat dari Perang Dunia II, tentang ratusan
ribu romusha di Thailand-Burma, tentang ribuan perempuan Cina,
Korea, Indonesia, Inggris, Australia maupun Belanda yang dijadi-
kan wanita penghibur yang sehari-harinya harus melayani --tepatn-
ya diperkosa-- oleh lebih dari sepuluh serdadu Jepang.
Selain itu, pemerintah Jepang menutup mata terhadap
orang-orang semacam Karja Wiredja yang selama berpuluh-puluh
tahun tertinggal di hutan-hutan karena terlalu miskin, dan terka-
dang takut, untuk kembali ke daerah asal mereka.
Ketika mendarat di lapangan udara Adisucipto, Yogyakarta,
Karja yang mengenakan sepatu karet alam, jaket lusuh, kaos warna
hijau tua serta celana tua yang riutsletingnya sudah rusak,
ternyata sudah tidak bisa mengenali Yogyakarta.
"Bangunan-bangunan tak sebanyak ini," katanya dalam logat
Melayu pasar tahun 1940-an. Menurut Karja, dia sebenarnya rindu
untuk pulang kampung melihat saudara-saudara dan menengok kuburan
kedua orang tuanya. Tetapi Karja tidak punya uang, buat makan
saja sulit.
Pemerintah Jepang juga tidak pernah menggubris tekanan-
tekanan dari berbagai organisasi non-pemerintah untuk memperhati-
kan dan minta maaf pada orang semacam Karja, tetapi mereka bersi-
keras bahwa pampasan perang sudah dibayar (Presiden Sukarno
membangun Hotel Indonesia, Gedung Sarinah dan beberapa proyek
lain dengan uang tersebut).
Mengapa rakyat Jepang tidak menuntut pemerintahnya?
"Karena mereka tidak tahu," ujar Takashi yang menyesal karena
pernah terlibat dalam penindasan rakyat Asia Tenggara, Tiongkok
dan Korea.
"Tetapi waktu itu kami berpikir bahwa kami memang berke-
hendak membebaskan Asia dari kolonialisme Barat. Saya baru sadar
ketika bertugas di Thailand dan melihat kekejaman serdadu Jepang
di proyek kereta api," katanya sedih.
Ketika ditanya mengapa pemerintah Jepang tidak minta
maaf, dengan cepat dan emosional Takashi menjawab, "Tanyakan pada
kaisar. Orang itu yang menentukan. Kaisar tidak pernah mau minta
maaf."
Tetapi buat Tom Uren (74), persoalannya tidak sesederhana
itu. Menurut Uren, tahun terakhir dari 3.5 tahun masa tahanannya,
Uren ditempatkan untuk bekerja paksa di daerah Saganoseki,
Kyushu, Jepang.
Disana Uren bekerja bersama orang Korea maupun orang
Jepang, "Saat itu kami mendapat pengertian yang lebih mendalam.
Kami sama-sama ingin perang berakhir dan para pekerja Jepang juga
sangat simpati terhadap mereka yang sakit dan lemah."
Uren mengatakan bahwa saat ini dia sudah tidak membenci
orang Jepang lagi, tetapi tidak dengan militerisme dan fasisme,
"Saya tidak ingin berdebat lagi soal perlunya permintaan maaf
atau tidak --itu hal yang permukaan," katanya, "Yang perlu,
pemerintah Jepang harus mengakui perbuatan-perbuatan kriminal
yang dilakukan oleh pihak militer mereka antara tahun 1930-an dan
1940-an."
"Dan sistem pendidikan mereka juga harus menginformasikan
kepada generasi muda perbuatan barbar dan tidak berperikemanu-
siaan yang pernah dilakukan generasi terdahulu. Masalah ini tidak
seharusnya didiamkan dan disembunyikan di bawah karpet," kata
Uren.
Karja sendiri, dengan lugu, mengatakan bahwa semuanya
sudah berakhir tanpa kebencian pada Jepang. "Nippon itu baik-
baik, saya dikasih uang seperti sekarang ini," katanya menunjuk
pada Takashi. (Suara INDEPENDEN)
Source : http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/...09/02/0000.html
17.10
No comments
KEJAHATAN PERANG PALING BIADAP SEPANJANG SEJARANG
"Katyn pembantaian" juga dikenal sebagai "pembantaian Hutan Katyn" adalah salah satu kejahatan perang terburuk tentara Merah dan ini kejahatan perang terhadap orang-orang memoles selama Perang Dunia 2; Menurut laporan tentara Rusia dilaksanakan lebih dari 20.000 tawanan perang cat di berbagai belahan Belarus dan Ukraina dan pembantaian ini semua dilakukan atas perintah Stalin diktator Rusia.
Pemerintah Rusia terus menolak klaim ini sampai tahun 1990, ketika Rusia umum diterima bahwa tindakan pembantaian ini memang dilakukan oleh Tentara Rusia.
Dari 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009, tentara Israel melakukan salah satu pelanggaran hak asasi manusia terburuk abad 21, selama tiga minggu konflik, pasukan Israel brutal martir lebih dari 1400 warga Palestina dan ribuan terluka, konflik ini juga sudah sangat buruk mempengaruhi infrastruktur Gaza, selama ini Pemerintah bangunan perang 80% hancur dan meninggalkan keluarga tunawisma 4000; jam lalu setelah cukup jumlah tekanan diplomatik, Israel mengumumkan gencatan senjata pada tanggal 18 Januari 2009
Genghis khan populer dikenal sebagai salah satu penakluk terbesar sepanjang masa, ketika ia meninggal ia memerintah bagian besar dari Asia Tengah dan Cina, tetapi selain penaklukan yang luas, ia juga dikritik atas pembunuhan brutal orang tidak berdosa.
Genghis khan lahir pada tahun 1162 M dekat gunung Khaldun Burkhan hari Mongolia modern, ia adalah seorang pemimpin militer yang sangat kejam, membunuh orang lain adalah salah satu taktik yang paling favorit militer; menurut perkiraan pasukannya dibunuh 15 juta selama invasi ke Asia Tengah dalam lima tahun dan selama penaklukan Nisyapur 1.747.000 k. sebuah Nisyapur
Hitler adalah seorang diktator sengit Nazi Jerman, menurut perkiraan dia membunuh sekitar lebih dari 4 juta orang Yahudi di seluruh Eropa dan pembantaian ini dikenal sebagai Holocaust dalam sejarah. kebencian Hitler untuk orang-orang Yahudi dapat diukur dari fakta bahwa ia mencoba untuk membunuh orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. Hitler memperkenalkan metode baru pembunuhan massal, ia menggunakan kamar gas dan kamp kematian bagi pelaksanaan Yahud.















